JAKARTA - Pascabencana yang melanda Pidie Jaya, Aceh, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Tim Tenaga Cadangan Kesehatan-Emergency Medical Team (TCK-EMT) Batch 2 telah mengambil langkah cepat untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan baik.
Di tengah tantangan pascabencana, tim medis yang tergabung dalam TCK-EMT berhasil menangani 31 pasien gawat darurat dan menggelar imunisasi campak dan rubella untuk mencegah wabah lebih lanjut.
Endang Burni Prasetyowati, PIC Pidie Jaya dari Kemenkes, mengonfirmasi bahwa upaya pelayanan kesehatan ini merupakan kolaborasi antara tim medis dari TCK-EMT dan tenaga kesehatan setempat. “Kami fokuskan pelayanan di puskesmas-puskesmas serta RSUD Pidie Jaya untuk memastikan akses kesehatan tetap tersedia bagi masyarakat yang terdampak,” ungkap Endang.
Di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Pidie Jaya, tim medis menangani beragam kasus, mulai dari kegawatdaruratan pernapasan seperti pneumonia hingga asma eksaserbasi akut. Kasus lain yang ditangani meliputi penyakit tidak menular seperti stroke, hipertensi emergensi, dan diabetes melitus dengan komplikasi. Selain itu, tim juga menangani kasus trauma dan luka akibat bencana.
Seluruh pasien yang datang ke IGD telah dilakukan triase sesuai tingkat kegawatdaruratan dan diberikan penanganan medis yang dibutuhkan, mulai dari pemberian oksigen, pemasangan infus, EKG, hingga pemantauan tanda vital. "Kami berkomitmen memastikan seluruh pasien mendapat penanganan optimal di tengah situasi darurat seperti ini," tambah Endang.
Selain menangani kasus gawat darurat, Kemenkes juga berfokus pada pencegahan penyakit dengan melaksanakan imunisasi tambahan campak (measles) dan rubella (MR) untuk anak-anak di Pidie Jaya. Imunisasi tambahan ini dilaksanakan untuk mencegah penyebaran penyakit pascabanjir, yang kerap menambah beban sistem kesehatan di wilayah terdampak.
Hingga 8 Januari 2026, imunisasi campak telah dilaksanakan di dua puskesmas utama, yaitu Puskesmas Meurah Dua dan Puskesmas Meureudu. Dari target 1.211 anak, sebanyak 42 anak atau 3,5 persen sudah mendapatkan vaksin. Secara kumulatif, program imunisasi Outbreak Response Immunization (ORI) di Pidie Jaya sudah mencakup 489 anak, atau sekitar 11,6 persen dari total target.
Namun, pelaksanaan imunisasi ini menghadapi beberapa tantangan, antara lain cuaca hujan yang mempengaruhi kehadiran anak-anak untuk menerima vaksinasi, akses jalan yang berlumpur yang menghambat mobilisasi, serta penolakan dari sebagian orang tua yang khawatir tentang proses imunisasi. “Kami terus berupaya untuk mengatasi kendala ini, dengan memberikan edukasi kepada orang tua dan memfasilitasi transportasi untuk mencapai fasilitas kesehatan,” ujar Endang.
Dalam pelaksanaannya, imunisasi tambahan campak dan rubella dilaksanakan di beberapa fasilitas kesehatan lainnya, termasuk Puskesmas Ulim, Puskesmas Jangka Buya, dan Puskesmas Blang Kuta. Tim medis juga berkoordinasi dengan petugas kesehatan setempat untuk mempercepat distribusi vaksin dan memperluas jangkauan layanan.
Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya untuk mendukung pemerintah daerah dalam pemulihan pascabencana, dengan memastikan bahwa layanan kesehatan tetap optimal. Tidak hanya pelayanan medis dan kegawatdaruratan, tetapi juga upaya pencegahan penyakit melalui imunisasi, yang menjadi bagian dari langkah-langkah preventif agar tidak terjadi wabah lebih lanjut pascabencana.
Pemerintah berharap bahwa dengan adanya kerjasama yang solid antara Kemenkes, tenaga medis, dan masyarakat setempat, pemulihan kesehatan di Pidie Jaya dapat berjalan dengan lancar dan efektif. Tim TCK-EMT dan tenaga medis lokal diharapkan terus memberikan dukungan yang dibutuhkan untuk mencegah krisis kesehatan lebih lanjut, serta memperkuat pemulihan layanan kesehatan dasar pascabencana.
Dengan adanya tindakan cepat dan terkoordinasi, diharapkan masyarakat Pidie Jaya dapat segera pulih dan kembali melanjutkan aktivitasnya dalam kondisi sehat dan aman. Kemenkes memastikan bahwa dukungan akan terus diberikan, baik dalam bentuk layanan medis maupun pencegahan wabah, demi mencegah ter