ciri ciri pertemanan

Waspada Lingkungan Kantor, 5 Tanda Rekan Kerja Termasuk Teman Toxic

Waspada Lingkungan Kantor, 5 Tanda Rekan Kerja Termasuk Teman Toxic
Waspada Lingkungan Kantor, 5 Tanda Rekan Kerja Termasuk Teman Toxic

JAKARTA - Dunia kerja sering kali dipersepsikan sebagai ruang profesional yang hanya berisi target, rapat, dan tanggung jawab.

Namun di balik rutinitas tersebut, ada dinamika sosial yang tak kalah kompleks dibandingkan masa sekolah atau kuliah. Setiap hari, karyawan berinteraksi dengan berbagai karakter rekan kerja, membangun komunikasi, bahkan menjalin pertemanan. Sayangnya, tidak semua hubungan yang terbangun di kantor membawa dampak positif.

Bagi banyak orang, terutama yang bekerja dengan rekan sebaya, menjalin hubungan akrab hampir tak terelakkan. Obrolan ringan di sela pekerjaan, makan siang bersama, hingga berbagi cerita pribadi kerap menjadi bagian dari keseharian. Namun, kedekatan ini juga menyimpan potensi masalah jika tidak disikapi dengan hati-hati. Ada kalanya seseorang yang tampak ramah justru membawa pengaruh negatif dalam jangka panjang.

Sama seperti lingkungan pertemanan di bangku pendidikan, dunia perkantoran dihuni oleh beragam tipe individu. Ada rekan kerja yang tulus membantu, ada pula yang hanya mencari keuntungan pribadi, bahkan tidak jarang yang gemar mengadu domba. Oleh karena itu, kemampuan untuk menyeleksi pertemanan menjadi hal penting agar kesehatan mental dan profesionalitas tetap terjaga.

Memahami batas antara rekan kerja dan teman dekat adalah langkah awal. Tidak semua orang di kantor harus dijadikan sahabat, dan tidak semua hubungan perlu dibawa ke ranah personal. Mengetahui ciri-ciri rekan kerja yang bersifat toxic dapat membantu seseorang mengambil sikap lebih bijak dalam berinteraksi. Dilansir dari News24 dan Huff Post, berikut lima tanda yang menunjukkan bahwa teman atau rekan kerja di kantor termasuk orang toxic.

1. Ekspektasi Pembelaan Tanpa Batas

Salah satu tanda paling awal dari perilaku toxic adalah munculnya ekspektasi pembelaan berlebihan. Rekan kerja semacam ini menganggap kedekatan sebagai tiket untuk selalu dibela, apa pun situasinya. Dalam konteks pertemanan, membela teman yang diperlakukan tidak adil adalah hal wajar. Namun, di lingkungan kerja, ada aturan, prosedur, dan tanggung jawab profesional yang tidak bisa diabaikan.

Tidak semua masalah kantor bisa diselesaikan dengan alasan pertemanan. Ketika seseorang terus-menerus menuntut pembelaan, bahkan saat ia jelas melakukan kesalahan, hal ini menjadi sinyal bahaya. Ekspektasi semacam ini dapat menempatkan kamu dalam posisi sulit, bahkan berisiko merugikan karier sendiri.

2. Rasa Takut terhadap Tindakan Mereka

Pertemanan yang sehat seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman. Jika justru muncul rasa takut terhadap tindakan rekan kerja tertentu, hal ini patut diwaspadai. Rasa takut bisa muncul karena sikap agresif, manipulatif, atau ancaman tersirat yang sering mereka lontarkan.

Ketika kamu merasa cemas membayangkan reaksi mereka jika hubungan merenggang atau jika kamu menolak permintaan tertentu, itu bukan lagi hubungan yang setara. Ketakutan semacam ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan relasi, yang merupakan ciri kuat dari pertemanan toxic di kantor.

3. Perubahan Perilaku ke Arah Negatif

Lingkungan pertemanan sangat memengaruhi sikap dan kebiasaan seseorang. Jika setelah dekat dengan rekan kerja tertentu kamu mulai mengalami perubahan perilaku yang negatif, ini bisa menjadi alarm penting. Misalnya, sebelumnya kamu dikenal profesional dan fokus bekerja, namun kini lebih sering bergunjing, menjatuhkan orang lain, atau menjadi malas menjalankan tanggung jawab.

Perubahan ini sering terjadi secara perlahan dan tidak disadari. Namun ketika refleksi diri menunjukkan bahwa kualitas profesional menurun sejak menjalin pertemanan tersebut, besar kemungkinan pengaruh toxic sedang bekerja. Lingkungan kerja seharusnya mendorong pertumbuhan, bukan sebaliknya.

4. Munculnya Rasa Khawatir dan Cemas Berlebihan

Pertemanan idealnya membawa perasaan senang dan dukungan emosional. Jika setiap kali berinteraksi dengan seseorang di kantor justru muncul rasa cemas, khawatir, atau tidak tenang, ini merupakan tanda yang tidak normal. Bahkan duduk berdekatan atau mengobrol ringan pun terasa menegangkan.

Perasaan campur aduk, dilema batin, hingga kebimbangan untuk mengakhiri atau mempertahankan hubungan sering muncul dalam relasi toxic. Kondisi ini menguras energi emosional dan dapat berdampak pada kinerja kerja secara keseluruhan.

5. Adanya Pola Pengkhianatan

Pengkhianatan adalah tanda paling jelas dari perilaku toxic. Rekan kerja yang gemar melaporkan orang lain ke atasan demi keuntungan pribadi, mencari-cari kesalahan, atau mendekati pihak tertentu hanya untuk kepentingan sendiri patut diwaspadai. Meski kamu belum menjadi korban langsung, pola perilaku ini menunjukkan potensi risiko di masa depan.

Seseorang yang mudah mengkhianati orang lain sangat mungkin melakukan hal serupa ketika situasi menguntungkannya. Hubungan dengan tipe rekan kerja seperti ini sebaiknya dibatasi secara profesional agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar.

Kelima tanda di atas dapat menjadi panduan awal untuk mengenali rekan kerja toxic di lingkungan kantor. Menyadari hal ini bukan berarti harus menciptakan konflik, melainkan menjaga jarak secara sehat dan tetap bersikap profesional. Dengan begitu, lingkungan kerja dapat tetap kondusif, dan kesehatan mental pun lebih terjaga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index